Judul Buku : Simple Economics of Cybercrime and the Vicious Circle.
Abstract
Cybercrimes menjadi semakin berkembang dan canggih dan memiliki dampak ekonomi yang lebih parah daripada kejahatan pada umumnya. teknologi dan orang-orang yang terampil dibidang ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya. Dan sifat kejahtan dunia maya mempunyai struktur yang berbeda. Pembahasan kali ini, kita akan menjelaskan atau mengkaji bagaimana karakteristik kejahatan cyber, korban cybercrime , dan bagaimana kedudukan cybercrime didalam hukum, untuk saling melengkapi satu sama lain. Selanjutnya, kita membangun elemen kunci dari siklus kejahatan dan beberapa karakteristik tambahan dari kejahatan dunia maya untuk menilai untung rugi dari sudut pandang hacker.
Introduction
Mekanisme yang menjadi penyebab sebuah tindakan criminal berbeda untuk tiap type kejahatan (Clarke,1983). Sebuah pemahaman yang lebih rinci tentang mekanisme tersebut, yaitu, struktur biaya, keuntungan, dan daya tarik dari kejahatan dunia maya, menjadi penting untuk menanggulangi jenis kejahatan baru ini. Ada Tiga faktor struktur yg unik yang menjadi penyebab kejahatan dunia maya yaitu, teknologi dan keterampilan yang mumpuni, tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya, dan modus kejahatan yang masih baru atau terkini.
Pertama, tidak seperti kejahatan pada umumnya yang melibattkan manusia atau benda seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, sebagian besar kejahatan dunia maya membutuhkan keahlian khusus untuk melakukannya. Pada intinya, harus ditekankan bahwa bahkan pemula yang hanya menggunakan tools orang lain untuk melakukan kejahatan dunia maya memiliki keamampuan yg lebih dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan pada umumnya. Kedua, mengingat internet digunakan secara luas, kejahatan dunia maya memerlukan prosedur dan masalah yurisdiksi.
Ketiga, karena sebagian besar kejahatan dunia maya bersifat baru, otoritas pelaksanaan hukum di seluruh dunia relatif tidak berpengalaman untuk menangani kejahatan-kejahatan seperti ini.
Keempat, implikasi lain dari kejahatan yang bersifat baru adalah bahwa sistem hukum tidak berkembang dengan baik untuk menangani kejahatan dunia maya. Brenner (2004, hal 22 ) mengutip : " . . . model pelaksanaan hukum tradisional merupakan kompilasi dari pengalaman masa lalu yang telah dianggap efektif dalam menangani fenomena yang dihadapai. Strategi umum model, pendekatan reaktif, adalah salah satu yang telah digunakan sejak jaman dahulu. " Beberapa ahli berpendapat bahwa " prinsip-prinsip awal hukum mengenai kejahatan cyber perlu dipertimbangkan kembali” ( Katyal , 2001). Selain itu, beberapa negara belum memiliki hukum untuk menangani kasus cybercrime.
Kelima, masih dimensi lain dari corak baru adalah kurangnya mekanisme yg dikembangkan sebelumnya dan kode yang ditetapkan, kebijakan, aturan dan prosedur yang diterapkan. faktor-faktor inilah yang menyebabkan kurangnya rasa bersalah pelaku kejahatan dunia maya dibandingkan dengan pelaku kejahatan pada umumnya.
Pada pembahasan ini struktur kejahatan dunia maya dan penilaian keuntungan dan kerugian kejahatan cyber. Dari sudut pandang korban, dikethaui bahwa analisis ekonomi dapat mmbantu menjelaskan investasi yang optimal serta jenis tindakan yang diperlukan untuk mencegah hacker meretas ke dalam organisasi jaringan komputer (Anderson & Schneier, 2005). Kami menawarkan analisis ekonomi sederhana dari perspektif kejahatn cyber. Analisis seperti ini memberikan pandangan tentang faktor-faktor yang pendorong dan meningkatkan perilaku kejahatan cyber.
A. Faktor Ekonomi Yang Menyebabkan Cybercrime
Peneliti sebelumnya telah berpendapat bahwa "pelanggaran akan terjadi jika godaan ekonomi semakin tinggi. "(Hirschauer & Musshoff, 2007, hal. 248). Orang-orang dapat melihat bahwa sistem hukum kriminal telah sah dan adil, menerima legitimasi norma-norma anti-cybercrime dan masalah internal lainnya, tapi mungkin mereka melanggar aturan ketika godaan ekonomi kuat (Morgan, 2005). Sebuah pertanyaan penting kemudian adalah: faktor apa yang menyebabakan sehingga mereka tergoda untuk melakukan kejahatan dunia maya??
1. Sasaran
Daya Tarik Target tergantung pada persepsi pelaku terhadap korban. Penelitian terduhulu
menunjukkan bahwa peluang kejahatan tergantung keuntungan yang akan diperoleh dari target korban, yang diukur dari nilai ekonomi, nilai simbolis dan portabilitas (Clarke, 1995). Umumnya kekayaan suatu wilayah dan sasaran itu dipengaruhi daya tariknyaa. Penelitian empiris telah menunjukkan bahwa pada daerah tertentu, semakin mewah kendaraan yang dimiliki oleh masyarakatnya lebih cenderung menjadi sasaran (Clarke, 1995). Demikian juga, beberapa benda yang disebut "hot produk" akan menjadi sasaran (Clarke, 1999). sasaran daya tarik
juga terkait dengan aksesibilitas dan visibilitasnya, muda diakses secara fisik, dan kurangnya
pengawasan (Bottoms & Wiles, 2002; Clarke, 1995).
2. Economic Conditions Facing an Offender
Secara umum, tingkat kejahatan sangat berhubungn kemampuan ekonomi yang rendah. Becker (1995 , p . 10 ) berpendapat bahwa tingginya tingkat criminal yang melibatkan remaja: "kurangnnya pendapatan menjadi salah satu factor dalam melakukan kejahtan, dan remaja memiliki pendapatan lebih rendah dan kesempatan kerja lebih sedikit ".
B. Proses Ekonomi Yang Memotivasi Pelaku Kejahatan
Tidak seperti kejahatan pada umumya terhadap orang atau barang seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, kejahatan dunia maya meruapakan kejahatan yang mengandalkan skill atau keterampilan. Pada negara-negara industri, orang-orang memiliki kemampauan IT dapat lebih mudah menemukan pekerjaan yang bergensi. Sejumlah besar serangan cyber berasal dari Eropa Timur dan Rusia karena pelajar pada Negara ini mempunyai kemampuan matematika, fisika dan computer yang baik tetapi kesulitan mencari pekerjaan (Blau, 2004). Factor ekonomi dari Negara-negara pecahan uni soviet hanya sedikit menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang orang yang memiliki kemampuan komputer. (Serio & Gorkin, 2003).
Di balik semua itu pada tahun 1998 terjadi krisisi finansial di Rusia yang menyebabkan programmer kehilangan pekerjaan (Serio & Gorkin, 2003). Di beberapa negara, kelompok kejahatan yang terorganisir dilaporkan diabayar sampai 10 kali bagi lulusan IT (Warren, 2007). Pendapat Seorang hacker di Moscow menjelaskan bahwa: "Hacking adalah salah satu pekerjaan yang baik yang tersisa di sini "(Walker, 2004). Demikian juga, tentang hacker yang berasal dari Rumania, pusat pengaduan kejahtan penipuan yang terjadi di internet: mencatat bahwa "masalah lapangan pekerjaan yang ditawarkan di Rumania, menyebabakan beberapa dari pelajar computer yang berbakat di dunia mengeksploitasi bakat mereka secara online. "
Bisnis dengan ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital seperti kasino online, bank, dan jaringan e-commerce merupakan yang paling berpotensi untuk menjadi korban kejahatan dunia maya (Kshetri, 2005). Ini tampaknya menjadi target yang menarik, yang memberikan daya tarik kuat bagi pelaku kejahatan cyber (Clarke, 1995; Morgan, 2005). Sebuah studi oleh IDC menunjukkan bahwa lebih dari 60% dari kejahatan dunia maya yang ditargetkan lembaga keuangan pada tahun 2003 (Swartz, 2004).
C. Struktur Cybercrimes: Siklus Kejahatan
Karakteristik dari kejahatan cyber, korban cybercrime, dan lembaga penegak hukum saling mendukung satu sama lain dan membentuk siklus kejahatan cybercrime. Elemen kunci dari siklus terlihat pada Gambar dibawah:
Cybercrimes menjadi semakin berkembang dan canggih dan memiliki dampak ekonomi yang lebih parah daripada kejahatan pada umumnya. teknologi dan orang-orang yang terampil dibidang ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya. Dan sifat kejahtan dunia maya mempunyai struktur yang berbeda. Pembahasan kali ini, kita akan menjelaskan atau mengkaji bagaimana karakteristik kejahatan cyber, korban cybercrime , dan bagaimana kedudukan cybercrime didalam hukum, untuk saling melengkapi satu sama lain. Selanjutnya, kita membangun elemen kunci dari siklus kejahatan dan beberapa karakteristik tambahan dari kejahatan dunia maya untuk menilai untung rugi dari sudut pandang hacker.
Introduction
Mekanisme yang menjadi penyebab sebuah tindakan criminal berbeda untuk tiap type kejahatan (Clarke,1983). Sebuah pemahaman yang lebih rinci tentang mekanisme tersebut, yaitu, struktur biaya, keuntungan, dan daya tarik dari kejahatan dunia maya, menjadi penting untuk menanggulangi jenis kejahatan baru ini. Ada Tiga faktor struktur yg unik yang menjadi penyebab kejahatan dunia maya yaitu, teknologi dan keterampilan yang mumpuni, tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya, dan modus kejahatan yang masih baru atau terkini.
Pertama, tidak seperti kejahatan pada umumnya yang melibattkan manusia atau benda seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, sebagian besar kejahatan dunia maya membutuhkan keahlian khusus untuk melakukannya. Pada intinya, harus ditekankan bahwa bahkan pemula yang hanya menggunakan tools orang lain untuk melakukan kejahatan dunia maya memiliki keamampuan yg lebih dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan pada umumnya. Kedua, mengingat internet digunakan secara luas, kejahatan dunia maya memerlukan prosedur dan masalah yurisdiksi.
Ketiga, karena sebagian besar kejahatan dunia maya bersifat baru, otoritas pelaksanaan hukum di seluruh dunia relatif tidak berpengalaman untuk menangani kejahatan-kejahatan seperti ini.
Keempat, implikasi lain dari kejahatan yang bersifat baru adalah bahwa sistem hukum tidak berkembang dengan baik untuk menangani kejahatan dunia maya. Brenner (2004, hal 22 ) mengutip : " . . . model pelaksanaan hukum tradisional merupakan kompilasi dari pengalaman masa lalu yang telah dianggap efektif dalam menangani fenomena yang dihadapai. Strategi umum model, pendekatan reaktif, adalah salah satu yang telah digunakan sejak jaman dahulu. " Beberapa ahli berpendapat bahwa " prinsip-prinsip awal hukum mengenai kejahatan cyber perlu dipertimbangkan kembali” ( Katyal , 2001). Selain itu, beberapa negara belum memiliki hukum untuk menangani kasus cybercrime.
Kelima, masih dimensi lain dari corak baru adalah kurangnya mekanisme yg dikembangkan sebelumnya dan kode yang ditetapkan, kebijakan, aturan dan prosedur yang diterapkan. faktor-faktor inilah yang menyebabkan kurangnya rasa bersalah pelaku kejahatan dunia maya dibandingkan dengan pelaku kejahatan pada umumnya.
Pada pembahasan ini struktur kejahatan dunia maya dan penilaian keuntungan dan kerugian kejahatan cyber. Dari sudut pandang korban, dikethaui bahwa analisis ekonomi dapat mmbantu menjelaskan investasi yang optimal serta jenis tindakan yang diperlukan untuk mencegah hacker meretas ke dalam organisasi jaringan komputer (Anderson & Schneier, 2005). Kami menawarkan analisis ekonomi sederhana dari perspektif kejahatn cyber. Analisis seperti ini memberikan pandangan tentang faktor-faktor yang pendorong dan meningkatkan perilaku kejahatan cyber.
A. Faktor Ekonomi Yang Menyebabkan Cybercrime
Peneliti sebelumnya telah berpendapat bahwa "pelanggaran akan terjadi jika godaan ekonomi semakin tinggi. "(Hirschauer & Musshoff, 2007, hal. 248). Orang-orang dapat melihat bahwa sistem hukum kriminal telah sah dan adil, menerima legitimasi norma-norma anti-cybercrime dan masalah internal lainnya, tapi mungkin mereka melanggar aturan ketika godaan ekonomi kuat (Morgan, 2005). Sebuah pertanyaan penting kemudian adalah: faktor apa yang menyebabakan sehingga mereka tergoda untuk melakukan kejahatan dunia maya??
1. Sasaran
Daya Tarik Target tergantung pada persepsi pelaku terhadap korban. Penelitian terduhulu
menunjukkan bahwa peluang kejahatan tergantung keuntungan yang akan diperoleh dari target korban, yang diukur dari nilai ekonomi, nilai simbolis dan portabilitas (Clarke, 1995). Umumnya kekayaan suatu wilayah dan sasaran itu dipengaruhi daya tariknyaa. Penelitian empiris telah menunjukkan bahwa pada daerah tertentu, semakin mewah kendaraan yang dimiliki oleh masyarakatnya lebih cenderung menjadi sasaran (Clarke, 1995). Demikian juga, beberapa benda yang disebut "hot produk" akan menjadi sasaran (Clarke, 1999). sasaran daya tarik
juga terkait dengan aksesibilitas dan visibilitasnya, muda diakses secara fisik, dan kurangnya
pengawasan (Bottoms & Wiles, 2002; Clarke, 1995).
2. Economic Conditions Facing an Offender
Secara umum, tingkat kejahatan sangat berhubungn kemampuan ekonomi yang rendah. Becker (1995 , p . 10 ) berpendapat bahwa tingginya tingkat criminal yang melibatkan remaja: "kurangnnya pendapatan menjadi salah satu factor dalam melakukan kejahtan, dan remaja memiliki pendapatan lebih rendah dan kesempatan kerja lebih sedikit ".
B. Proses Ekonomi Yang Memotivasi Pelaku Kejahatan
Tidak seperti kejahatan pada umumya terhadap orang atau barang seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, kejahatan dunia maya meruapakan kejahatan yang mengandalkan skill atau keterampilan. Pada negara-negara industri, orang-orang memiliki kemampauan IT dapat lebih mudah menemukan pekerjaan yang bergensi. Sejumlah besar serangan cyber berasal dari Eropa Timur dan Rusia karena pelajar pada Negara ini mempunyai kemampuan matematika, fisika dan computer yang baik tetapi kesulitan mencari pekerjaan (Blau, 2004). Factor ekonomi dari Negara-negara pecahan uni soviet hanya sedikit menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang orang yang memiliki kemampuan komputer. (Serio & Gorkin, 2003).
Di balik semua itu pada tahun 1998 terjadi krisisi finansial di Rusia yang menyebabkan programmer kehilangan pekerjaan (Serio & Gorkin, 2003). Di beberapa negara, kelompok kejahatan yang terorganisir dilaporkan diabayar sampai 10 kali bagi lulusan IT (Warren, 2007). Pendapat Seorang hacker di Moscow menjelaskan bahwa: "Hacking adalah salah satu pekerjaan yang baik yang tersisa di sini "(Walker, 2004). Demikian juga, tentang hacker yang berasal dari Rumania, pusat pengaduan kejahtan penipuan yang terjadi di internet: mencatat bahwa "masalah lapangan pekerjaan yang ditawarkan di Rumania, menyebabakan beberapa dari pelajar computer yang berbakat di dunia mengeksploitasi bakat mereka secara online. "
Bisnis dengan ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital seperti kasino online, bank, dan jaringan e-commerce merupakan yang paling berpotensi untuk menjadi korban kejahatan dunia maya (Kshetri, 2005). Ini tampaknya menjadi target yang menarik, yang memberikan daya tarik kuat bagi pelaku kejahatan cyber (Clarke, 1995; Morgan, 2005). Sebuah studi oleh IDC menunjukkan bahwa lebih dari 60% dari kejahatan dunia maya yang ditargetkan lembaga keuangan pada tahun 2003 (Swartz, 2004).
C. Struktur Cybercrimes: Siklus Kejahatan
Karakteristik dari kejahatan cyber, korban cybercrime, dan lembaga penegak hukum saling mendukung satu sama lain dan membentuk siklus kejahatan cybercrime. Elemen kunci dari siklus terlihat pada Gambar dibawah:
1. The Cybercrime Market
Kita mulai dengan mempertimbangkan "market" untuk cybercrime. Berikut ini, Ehrlich (1996), cybercrime "market" dapat dianggap sebagai Walrasian market di mana "perilaku keseluruhan suplayer dan konsumen dikoordinasikan saling konsisten dengan penyesuaian harga yang relevan. "bahwa market adalah Walrasian market adalah model yang paling umum digunakan untuk menjelaskan operasi pasar virtual (Toshiya, Susumu, & Noriyasu, 2003). Dalam (1968) Model dari kejahatan pasar, kriminal dan penegak hukum merupakan aktor yang terlibat. interaksi antara kedua faktor menentukan keseimbangan. Hal ini Penting sebagai catatan bahwa aktor lain selain pelaku dan aparat penegak hukum yang juga terlibat dalam market crime. Kejahatan pada umumnya, konsumen yang illegal barang dan jasa, dan layanan yang ilegal pada kejahatan dan korban tertentu (Ehrlich, 1996).
2. Law-Enforcement Agencies
Pada awalnya, hukum dan mekanismenya sudah tertinggal dalam menangani masalah cybercrime ( Brenner, 2004; Jones,2007). Lembaga penegak hukum seperti Kepolisian dan FBI belum berpengalaman dengan kasusu kejahatan model ini. polisi di beberapa negara lokal dan tidak memiliki kemampuan untuk menangani kejahtan cybercrime secara global ( Walden 2005 ). Alexander ( 2002) mencatat : "penegak Hukum saat ini tertinggal 5 sampai 10 tahun di belakang, kaitannya dengan pelaku kejahatan cybercrime secara nglobal . "
3. Cyber-Criminals
Pelaku kejahatan cyber mempunyai latar belakang yang unik dan secara signifikan berbeda dengan latar belakang para pelaku kejahatan pada umumnya. Tidak adaanya data mengenani pelaku cyber pada sebuah lembaga penegak hukum menjadi penghambat dalam memecahkan masalah cybercrime. Di Rusia, contohnya, sebagian besar hacker muda, berpendidikan tinggi, dan bekerja secara independen dan hacker-hacker tersebut tidak memiliki catatan kejahatan kriminal.
4. Cybercrime Victims
Kejahatan dunia maya meruapakan bentuk kejahatan yang jarang dilaporakan. Korban kejatan tersebut tidak memiliki keinginan untuk melaporkan kejahatan criminal tersebut sehingga hal ini menjadi factor yang meningkatkan kejahatan kriminal cybercrime. Beberapa ahli mengatakan
bahwa kurang dari 10% dari kejahatan dunia maya yang dilaporkan (Bednarz, 2004). Sebuah laporan dari FBI dirilis pada Januari 2006 menunjukkan bahwa hanya 9% usaha yang melaporkan kejahatan dunia maya kepada pihak berwenang (Regan, 2006). Demikian juga, penelitian lain yang dilakukan di Amerika Raya menunjukkan bahwa tidak ada keluhan resmi dibuat pada 90% dari kasus pelecehan secara online (Birmingham Post, 2007). Demikian pula, survei yang dilakukan para pengusaha di Australia menunjukkan bahwa hanya 8% dari responden melaporkan pelanggaran keamanan komputer ke polisi dan sebagian besar memilih untuk menangani secara internal (Andrews, 2009).
5. Inter-jurisdictional Issues
Dalam dunia pada umumnya, sebagian besar kejahatan berkaitan dengan rumah. Criminal hanya akan melakukan perjalanan jauh apabila mendapatkan keuntungan yang banyak. (van Koppen & Jansen, 1998). Beberapa kejahatan seperti penculikan, pencurian Bank. Kejahatan-kejahatan ini memerlukan perencanaan yang matang. Kejahatan di dunia digital berbeda secara signifikan pada dimensi ini . Kebanyakan kejahatan dunia maya, di lakukan hanya dengan tangan, dilakukan jauh dari rumah seorangkriminal. Misalnya, di California, kasus yang dilaporkan kejahatan cyber di Amerika Serikat pada tahun 2007, hanya 18,3 % kasus, baik korban dan pelaku tinggal di negara bagian ( IC3, Internet Crime Center Pengaduan, 2007). Sebagian besar dari investigasi cybercrime memiliki masalah Yurisdkisi yang signifikan. Pada beberapa kasus, kejahatan dunia maya melintasi perbatasan akan lambat diselesaikan.
Kita mulai dengan mempertimbangkan "market" untuk cybercrime. Berikut ini, Ehrlich (1996), cybercrime "market" dapat dianggap sebagai Walrasian market di mana "perilaku keseluruhan suplayer dan konsumen dikoordinasikan saling konsisten dengan penyesuaian harga yang relevan. "bahwa market adalah Walrasian market adalah model yang paling umum digunakan untuk menjelaskan operasi pasar virtual (Toshiya, Susumu, & Noriyasu, 2003). Dalam (1968) Model dari kejahatan pasar, kriminal dan penegak hukum merupakan aktor yang terlibat. interaksi antara kedua faktor menentukan keseimbangan. Hal ini Penting sebagai catatan bahwa aktor lain selain pelaku dan aparat penegak hukum yang juga terlibat dalam market crime. Kejahatan pada umumnya, konsumen yang illegal barang dan jasa, dan layanan yang ilegal pada kejahatan dan korban tertentu (Ehrlich, 1996).
2. Law-Enforcement Agencies
Pada awalnya, hukum dan mekanismenya sudah tertinggal dalam menangani masalah cybercrime ( Brenner, 2004; Jones,2007). Lembaga penegak hukum seperti Kepolisian dan FBI belum berpengalaman dengan kasusu kejahatan model ini. polisi di beberapa negara lokal dan tidak memiliki kemampuan untuk menangani kejahtan cybercrime secara global ( Walden 2005 ). Alexander ( 2002) mencatat : "penegak Hukum saat ini tertinggal 5 sampai 10 tahun di belakang, kaitannya dengan pelaku kejahatan cybercrime secara nglobal . "
3. Cyber-Criminals
Pelaku kejahatan cyber mempunyai latar belakang yang unik dan secara signifikan berbeda dengan latar belakang para pelaku kejahatan pada umumnya. Tidak adaanya data mengenani pelaku cyber pada sebuah lembaga penegak hukum menjadi penghambat dalam memecahkan masalah cybercrime. Di Rusia, contohnya, sebagian besar hacker muda, berpendidikan tinggi, dan bekerja secara independen dan hacker-hacker tersebut tidak memiliki catatan kejahatan kriminal.
4. Cybercrime Victims
Kejahatan dunia maya meruapakan bentuk kejahatan yang jarang dilaporakan. Korban kejatan tersebut tidak memiliki keinginan untuk melaporkan kejahatan criminal tersebut sehingga hal ini menjadi factor yang meningkatkan kejahatan kriminal cybercrime. Beberapa ahli mengatakan
bahwa kurang dari 10% dari kejahatan dunia maya yang dilaporkan (Bednarz, 2004). Sebuah laporan dari FBI dirilis pada Januari 2006 menunjukkan bahwa hanya 9% usaha yang melaporkan kejahatan dunia maya kepada pihak berwenang (Regan, 2006). Demikian juga, penelitian lain yang dilakukan di Amerika Raya menunjukkan bahwa tidak ada keluhan resmi dibuat pada 90% dari kasus pelecehan secara online (Birmingham Post, 2007). Demikian pula, survei yang dilakukan para pengusaha di Australia menunjukkan bahwa hanya 8% dari responden melaporkan pelanggaran keamanan komputer ke polisi dan sebagian besar memilih untuk menangani secara internal (Andrews, 2009).
5. Inter-jurisdictional Issues
Dalam dunia pada umumnya, sebagian besar kejahatan berkaitan dengan rumah. Criminal hanya akan melakukan perjalanan jauh apabila mendapatkan keuntungan yang banyak. (van Koppen & Jansen, 1998). Beberapa kejahatan seperti penculikan, pencurian Bank. Kejahatan-kejahatan ini memerlukan perencanaan yang matang. Kejahatan di dunia digital berbeda secara signifikan pada dimensi ini . Kebanyakan kejahatan dunia maya, di lakukan hanya dengan tangan, dilakukan jauh dari rumah seorangkriminal. Misalnya, di California, kasus yang dilaporkan kejahatan cyber di Amerika Serikat pada tahun 2007, hanya 18,3 % kasus, baik korban dan pelaku tinggal di negara bagian ( IC3, Internet Crime Center Pengaduan, 2007). Sebagian besar dari investigasi cybercrime memiliki masalah Yurisdkisi yang signifikan. Pada beberapa kasus, kejahatan dunia maya melintasi perbatasan akan lambat diselesaikan.
Pada bagian ini, kita mengintegrasikan beberapa elemen kunci dari kerangka yang disedrhanakan mewakili siklus kejahatan yang dibahas diatas dan beberapa karakteristik tambahan kejahatan dunia maya untuk mengecek keuntungan yang diperoleh oleh hacker. Setelah pendekatan ekonomi, cyber-kriminal akan mempertimbangkan keuntungan yang diperoleh ketika terlibat dalam kejahatan tersebut (Becker, 1968; juga melihat Probasco, Clark, & Davis, 1995).
Cybercrime berkomitmen jika:
Mb + Pb > Ocp + OcmPaPc
dimana
Cybercrime berkomitmen jika:
Mb + Pb > Ocp + OcmPaPc
dimana
- Mb = The monetary benefits of committing the crime;
- Pb = The psychic benefit of committing the crime;
- Ocm = Monetary opportunity costs of conviction;
- Ocp = Psychic costs of committing a cybercrime;
- Pa = The probability of arrest;
- Pc = The probability of conviction.
Istilah di sisi kanan: OCM Pa Pc di (2,1) juga disebut sebagai harapan dari hasil akhir yang akan diperoleh. Persamaan (2.1) menyatakan biaya dan manfaat yang terkait dengan faktor tingkat makro dan mikro seperti jika tertangkap oleh pihak berwenang, stigma, dan pendapatan ilegal, yang ditemukan untuk mempengaruhi keterlibatan seorang individu 'dalam kejahatan tersebut (Aguilar-Millan, Foltz, Jackson, & Oberg, 2008; McCarthy, 2002).
1. The Benefit Side
1. The Benefit Side
Monetary Benefits : Dalam sudut pandang hacker kejahatan cybercrime yang berubah dengan cepat bisa menjadi motivasi untuk melakukan kejahatan. Seorang hacker Rusia bekerja sebagai ahli keamanan megatakan: "Ada yang lebih selain memperoleh uang yang banyak bagi seorang hacker dan cracker untuk membuat virus tidak hanya untuk kemuliaan ataupun politik "(Blau, 2004). Misalnya, untuk lulusan IT dengan pekerjaan yang sah di Rumania memperoleh sekitar US $ 400 per bulan dibandingkan dengan beberapa ribu per bulan yang didapatkan dalam melakaukan tindak kejahatan cybercrime. A "pengeksploitasian kemananan "bisa mendapatkan 10 kali lebih banyak untuk seorang peneliti keamanan (Claburn, 2008). Terri Forslof dari TippingPoint Teknologi merumuskan masalah seperti ini: "Selama periode sepuluh tahun hack untuk bersenang-senang dan hack untuk ketenaran telah menjadi hack untuk keuntungan "(Webwire, 2008).
Psychic Benefit (Pb) : Manfaat secara psikologis memberikan potensial yang kuat bagi beberapa individu yang terlibat dalam kejahatan dunia maya. Manfaat secara psikologis dapat motivasi intrinsik. Sebagai contoh, hacker maverick menguji keterampilan mereka dan mencari kesenangan dalam melakukan kejahatan, yang selain mendapatkan kesenangan secara psikologi juga keuntungan finansial. Seperti yang dijelaskan sbebelumnya ada beberapa prinsip dasar yang memotivasi bagi hacker. Pertama, rasa hormat dari rekan sesam hacker menjadi sumber keuntungan secarapsikologis bagi beberapa hacker. Kedua, perasaan pembenaran terhadap musuh secara simbolis juga memberikan manfaat psikologis bagi hacker .
2. The Cost Side
Psychic (Psychological) Costs of Committing a Cybercrime (Ocp) : Biaya secara psikologis memang tidak berwujud, namun bagaimanapun tetap bisa dianggap sebagai biaya. biaya ini terkait dengan energi psikologis dan mental yang dibutuhkan dalam melakukan kejahatan dunia maya. Rasa takut dan ketakutan tentang hukuman apabila ketahuan, rasa bersalah, dll Perasaan seperti itu yang berpotensi bagi kriminal untuk membenci kejahatan, dan nilai-nilai moral juga berpengaruh OCP (Ehrlich, 1996). Beberapa sarjana berpendapat bahwa nilai-nilai moral, yang berhubungan dengan harga sosial, lebih penting daripada biaya finansial (OCM) terkait dengan hukuman penjara dan kehilangan pendapatan (Nagin, 1998).
Monetary Opportunity Costs of Conviction (Ocm) : Maksudnya adalah kehilangan pendapatan untuk pengeluaran pembayaran uang tebusan apabila tertangkap. Misalnya, jika seorang hacker yang dijatuhi hukuman penjara 3 tahun, dan jika ia bisa mendapatkan penghasilan legal US $ 20.000 per tahun, katakanlah akan menelan biaya US $ 60.000 untuk tahun ini. banyak negara telah membuat hukum yang lebih ketat terhadap kejahatan dunia maya, yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan biaya tebusan. Meskipun demikian, banyak juga negara tidak memiliki hukum yang berlaku untuk melawan kejahatan dunia maya, yang berarti sangat rendah atau tidak ada pengeluaran biaya. Untuk mengambil satu contoh, ketika seorang hacker Philippino meluncurkan virus "Surat Cinta " pada tahun 2000, estimasi kerugian kerusakan di Amerika Serikat berkisar US $ 4-15000000000. Namun pemerintah AS tidak bisa berbuat apa-apa untuk menuntut hacker tersebut, atau untuk memulihkan kerusakan karena pada saat itu Filipina tidak memiliki undang-undang melarang kejahatan tersebut (Adams, 2001). Singkatnya, biaya untuk penjahat perilaku menyimpang di Internet sangat rendah (Shelley, 1998).
The Probability of Arrests (Pa) and the Probability of Conviction (Pc) : Seperti yang telah dibahas sebelumnya diatas, hanya sebagian kecil dari kejahatan dunia maya dilaporkan. untuk transaksi kecil dalam lelang Internet, misalnya, pembeli sering menghindari mengkritik penjual untuk perilaku oportunistik mereka karena mereka takut kemungkinan balas dendam dari penjual ( Clemons, 2007). Karena kekhawatiran terkait dengan pembalasan oleh penjual, Statistik kepuasan pembeli yang diterbitkan oleh situs web cenderung lebih tinggi dari tingkat kepuasan yang sebenarnya ( Dellarocas & Wood, 2008).
E. Concluding Comments : Pembahasan di atas menunjukkan bahwa ada godaan untuk terlibat dalam oportunistik perilaku di dunia maya. Dibandingkan dengan dunia nyata, sulitnya dideteksi bagi pelaku yang melakukan kejahatan di dunia cyber ini. Beberapa juga melakukan cybercrime karena kebodohan.
Fungsi dari Konsep Manifest dan laten ( Merton, 1968) dapat sangat membantu dalam memahami perilaku dari beberapa penjahat cyber. Fungsi Manifest adalah eksplisit dinyatakan dan dipahami oleh peserta aksi yang relevan dengan konsekuensi sesuai yang diharapkan. Fungsi laten, di sisi lain, adalah orang-orang yang tidak secara eksplisit terlibat (Merton, 1968). Contoh Napster di atas, misalnya, beberapa mungkin argumen pengguna layanan file sharing yang gratis yang disediakan oleh Napster konsisten dengan norma, nilai, dan keyakinan mereka bahkan sangat mendarah daging. bagaimanapun, secara ekonomi keuntungan yang diperoleh dari music gratis yang disediakan sangat menggoda ( fungsi laten ) .
Dengan tidak adanya tindakan yang tepat, unsur-unsur siklus kejahatan memperkuat
satu sama lain dan menyebabkan ketidakpercayaan publik kepada lembaga penegakan hukum dan peningkatan kepercayaan kriminal cyber, yang menghasilkan lebih banyak kasus dan akibat yang serius pada kejahatan dunia maya. Sebuah Survey Global Security yang dilakukan oleh Deloitte Touche Tohmatsu pada tahun 2003. menemukan bahwa perusahaan responden menghabiskan 6% dari anggaran TI mereka untuk keamanan. Namun demikian, serangan cyber meningkat dengan cepat. Di mana kita harus mulai untuk mematahkan siklus kejahatan cybercrime dan untuk mengubah keuntungan yang diperoleh dengan melakukan kejahatan dunia maya? Tidak ada solusi yang baik untuk menghadapi teknologi hubungannya dengan keamanan yang melibatkan teknologi. Langkah-langkah tingkat makro menggabungkan perbaikan teknologi dan non - teknologi yang dengan demikian diperlukan untuk memerangi kejahatan dunia maya .
Dalam dunia nyata, individu dan organisasi dapat mengurangi probabilitas menjadi korban dan kerugian dengan membeli polis asuransi atau dengan menggunakan langkah-langkah keamanan seperti menggunakan sistem anti-pencuri dan kotak penyimpanan yang aman (brangkas), ataupun dengan hidup di lingkungan yang aman ( Ehrlich & Becker, 1972) .
Pada tingkat makro, pengembangan kemampuan teknologi dan tenaga kerja nasional; diberlakukannya undang-undang baru ; tingkat yang lebih tinggi dari kolaborasi industri - pemerintah; dan koordinasi internasional sangat penting untuk memerangi bentuk kejahatan baru. Investasi dalam keterampilan otoritas penegak hukum cenderung meningkatkan kemampuan nasional untuk memerangi kejahatan dunia maya dan dengan demikian meningkatkan kemungkinan penangkapan para criminal tersebut. Seperti kebanyakan kriminal lainnya ( Becker, 1995), kita dapat mengasumsikan bahwa kriminal cyber adalah pengambil risiko. Tindakan yang diambil sejauh ini terutama ditekankan pada peningkatan hukuman bukan pada peningkatan probabilitas dari penangkapan krimnal. Hal ini bisa dibilang karena lembaga penegak hukum memiliki ketidak mampuan untuk mengejar ketinggalan teknologi dibandingkan dengan pelaku kriminal cyber (Downes, 2007). saat ini dapat disarankan bahwa warga negara dapat efektif untuk memerangi kejahatan dunia maya karena biaya jauh lebih sedikit bagi individu dan perusahaan-perusahaan swasta untuk melindungi alat elektronik mereka dibandingkan bagi pemerintah untuk mengidentifikasi dan menuntut para kriminal ( Katyal, 2001; Mikos, 2006).
2. The Cost Side
Psychic (Psychological) Costs of Committing a Cybercrime (Ocp) : Biaya secara psikologis memang tidak berwujud, namun bagaimanapun tetap bisa dianggap sebagai biaya. biaya ini terkait dengan energi psikologis dan mental yang dibutuhkan dalam melakukan kejahatan dunia maya. Rasa takut dan ketakutan tentang hukuman apabila ketahuan, rasa bersalah, dll Perasaan seperti itu yang berpotensi bagi kriminal untuk membenci kejahatan, dan nilai-nilai moral juga berpengaruh OCP (Ehrlich, 1996). Beberapa sarjana berpendapat bahwa nilai-nilai moral, yang berhubungan dengan harga sosial, lebih penting daripada biaya finansial (OCM) terkait dengan hukuman penjara dan kehilangan pendapatan (Nagin, 1998).
Monetary Opportunity Costs of Conviction (Ocm) : Maksudnya adalah kehilangan pendapatan untuk pengeluaran pembayaran uang tebusan apabila tertangkap. Misalnya, jika seorang hacker yang dijatuhi hukuman penjara 3 tahun, dan jika ia bisa mendapatkan penghasilan legal US $ 20.000 per tahun, katakanlah akan menelan biaya US $ 60.000 untuk tahun ini. banyak negara telah membuat hukum yang lebih ketat terhadap kejahatan dunia maya, yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan biaya tebusan. Meskipun demikian, banyak juga negara tidak memiliki hukum yang berlaku untuk melawan kejahatan dunia maya, yang berarti sangat rendah atau tidak ada pengeluaran biaya. Untuk mengambil satu contoh, ketika seorang hacker Philippino meluncurkan virus "Surat Cinta " pada tahun 2000, estimasi kerugian kerusakan di Amerika Serikat berkisar US $ 4-15000000000. Namun pemerintah AS tidak bisa berbuat apa-apa untuk menuntut hacker tersebut, atau untuk memulihkan kerusakan karena pada saat itu Filipina tidak memiliki undang-undang melarang kejahatan tersebut (Adams, 2001). Singkatnya, biaya untuk penjahat perilaku menyimpang di Internet sangat rendah (Shelley, 1998).
The Probability of Arrests (Pa) and the Probability of Conviction (Pc) : Seperti yang telah dibahas sebelumnya diatas, hanya sebagian kecil dari kejahatan dunia maya dilaporkan. untuk transaksi kecil dalam lelang Internet, misalnya, pembeli sering menghindari mengkritik penjual untuk perilaku oportunistik mereka karena mereka takut kemungkinan balas dendam dari penjual ( Clemons, 2007). Karena kekhawatiran terkait dengan pembalasan oleh penjual, Statistik kepuasan pembeli yang diterbitkan oleh situs web cenderung lebih tinggi dari tingkat kepuasan yang sebenarnya ( Dellarocas & Wood, 2008).
E. Concluding Comments : Pembahasan di atas menunjukkan bahwa ada godaan untuk terlibat dalam oportunistik perilaku di dunia maya. Dibandingkan dengan dunia nyata, sulitnya dideteksi bagi pelaku yang melakukan kejahatan di dunia cyber ini. Beberapa juga melakukan cybercrime karena kebodohan.
Fungsi dari Konsep Manifest dan laten ( Merton, 1968) dapat sangat membantu dalam memahami perilaku dari beberapa penjahat cyber. Fungsi Manifest adalah eksplisit dinyatakan dan dipahami oleh peserta aksi yang relevan dengan konsekuensi sesuai yang diharapkan. Fungsi laten, di sisi lain, adalah orang-orang yang tidak secara eksplisit terlibat (Merton, 1968). Contoh Napster di atas, misalnya, beberapa mungkin argumen pengguna layanan file sharing yang gratis yang disediakan oleh Napster konsisten dengan norma, nilai, dan keyakinan mereka bahkan sangat mendarah daging. bagaimanapun, secara ekonomi keuntungan yang diperoleh dari music gratis yang disediakan sangat menggoda ( fungsi laten ) .
Dengan tidak adanya tindakan yang tepat, unsur-unsur siklus kejahatan memperkuat
satu sama lain dan menyebabkan ketidakpercayaan publik kepada lembaga penegakan hukum dan peningkatan kepercayaan kriminal cyber, yang menghasilkan lebih banyak kasus dan akibat yang serius pada kejahatan dunia maya. Sebuah Survey Global Security yang dilakukan oleh Deloitte Touche Tohmatsu pada tahun 2003. menemukan bahwa perusahaan responden menghabiskan 6% dari anggaran TI mereka untuk keamanan. Namun demikian, serangan cyber meningkat dengan cepat. Di mana kita harus mulai untuk mematahkan siklus kejahatan cybercrime dan untuk mengubah keuntungan yang diperoleh dengan melakukan kejahatan dunia maya? Tidak ada solusi yang baik untuk menghadapi teknologi hubungannya dengan keamanan yang melibatkan teknologi. Langkah-langkah tingkat makro menggabungkan perbaikan teknologi dan non - teknologi yang dengan demikian diperlukan untuk memerangi kejahatan dunia maya .
Dalam dunia nyata, individu dan organisasi dapat mengurangi probabilitas menjadi korban dan kerugian dengan membeli polis asuransi atau dengan menggunakan langkah-langkah keamanan seperti menggunakan sistem anti-pencuri dan kotak penyimpanan yang aman (brangkas), ataupun dengan hidup di lingkungan yang aman ( Ehrlich & Becker, 1972) .
Pada tingkat makro, pengembangan kemampuan teknologi dan tenaga kerja nasional; diberlakukannya undang-undang baru ; tingkat yang lebih tinggi dari kolaborasi industri - pemerintah; dan koordinasi internasional sangat penting untuk memerangi bentuk kejahatan baru. Investasi dalam keterampilan otoritas penegak hukum cenderung meningkatkan kemampuan nasional untuk memerangi kejahatan dunia maya dan dengan demikian meningkatkan kemungkinan penangkapan para criminal tersebut. Seperti kebanyakan kriminal lainnya ( Becker, 1995), kita dapat mengasumsikan bahwa kriminal cyber adalah pengambil risiko. Tindakan yang diambil sejauh ini terutama ditekankan pada peningkatan hukuman bukan pada peningkatan probabilitas dari penangkapan krimnal. Hal ini bisa dibilang karena lembaga penegak hukum memiliki ketidak mampuan untuk mengejar ketinggalan teknologi dibandingkan dengan pelaku kriminal cyber (Downes, 2007). saat ini dapat disarankan bahwa warga negara dapat efektif untuk memerangi kejahatan dunia maya karena biaya jauh lebih sedikit bagi individu dan perusahaan-perusahaan swasta untuk melindungi alat elektronik mereka dibandingkan bagi pemerintah untuk mengidentifikasi dan menuntut para kriminal ( Katyal, 2001; Mikos, 2006).
Source:translate